Proses untuk Membentuk Anak Berkualitas Ini Tidak Ada di Lembaga PAUD, yang Pertama dan Terakhir Banyak yang Mengabaikannya

Pada zaman now pendidikan anak usia dini (PAUD) tumbuh subur, di setiap daerah bahkan RW ada lebih dari satu lembaga PAUD. Pemerintah pun sangat mendukung dan kesadaran masyarakatpun tentang pentingnya PAUD sudah sangat baik.

Kesadaran masyarakat itu dapat dilihat dengan berbondongnya mereka memasukkan anak ke PAUD baik formal (TK dan RA) maupun non formal (Tooder,KB daN SPS). Bahkan, untuk mereka yang berkecukupan mendaftarkan anaknya ke lembaga PAUD yang berbiaya tinggi.

Masyrakat berharap dengan menyekolahkan anak sejak usia dini dapat membuat anaknya menjadi lebih berkualitas dari darinya, sehingga tidak sedikit dari mereka yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak  mereka kepada lembaga PAUD.

Padahal, pendidikan pertama dan yang utama ada pada keluarga. Ayah dan Ibunyalah penanggung jawab utama pendidikan anaknya. Bahkan dalam Islam proses untuk menghasilkan anak yang berkualitas dimulai bukan  saat menjadi orang tua, apalagi dari lembaga PAUD.
Sesuai dengan definisinya, proses menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah rangkaian tindakan, perbuatan, atau pengalihan untuk menghasilkan produk. Islam memberikan rangkaian, tindakan, untuk Muslim yang ingin memiliki keturunan yang berkualitas jasmani dan rohaninya. Dan proses itu dimulai dari sebelum menikah.

Untuk itu pada tulisan yang singkat ini Aa Fajar akan uraikan proses dalam ajaran Islam terkait pendidikan yang penting dilakukan oleh seseorang untuk menghasilkan anak yang berkualitas, yaitu :

1.Pendidikan Sebelum Anak Lahir.

Pendidikan sebelum lahir ini dibagi menjadi tiga :

a.Sebelum Menikah

Pernikahan salah satu fungsinya adalah untuk menghasilkan keturunan agar keberadaan manusia tetap berkembang bukan sekadar memenuhi kebutuhan hasrat seksual. Seseorang yang menyadari hal tersebut, pasti akan mencari pasangan yang baik agar menghasilkan keturunan yang baik.

Rasulullah saw memberikan tuntunan untuk seorang yang ingin mencari pasangan untuk dinikahinya.  Beliau bersabda “Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim).

Pada hadis lain beliau juga bersabda, “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi)

Dari kedua hadis tersebut dapat difahami bahwa seseorang yang hendak menikah jika ingin memperolah keturunan yang baik maka pilihlah pasangan berdasarkan agamanya. Karena orang yang baik agamanya, bukan sekadar berhijab atau berjenggot, tetapi faham dan mengamalkan ajaran agamanya, maka secra otomatis perbuatan lainnya baik, makanannya baik sehingga kualitas benihnya menjadi baik.

b.Setelah Menikah

Pendidikan yang diberikan Islam kepada pria maupun wanita yang sudah menjadi suami istri hendaknya mempergauli pasangannya dengan baik. Salah satunya ketika hendak berhubungan suami istri diajarkan untuk membaca doa, dan mengikuti aturan seperti tidak boleh berhubungan saat istri haid, tidak boleh lewat dubur, tidak boleh melakukan oral (seks lewat mulut), jika ingin mengulangi dianjurkan untuk berwudhu.

Rasulullah saw bersabda :
Jika salah seorang dari kalian (yaitu suami) ingin berhubungan intim dengan istrinya, lalu ia membaca do’a: Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaq tanaa, “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki (Anak) yang Engkau anugerahkan kepada kami", kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelaka kan anak tersebut selamanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

c. Dalam Kandungan

Ketika seorang wanita hamil Islam memberikan tuntunan yaitu (1) Hendaknya bergembira dengan berita kehamilan tersebut. (2) Melindungi diri dari gangguan Syaithan dengan rutin berdzikir yang diajarkan Rasulullah seperti dzikir pagi dan sore, membaca Alquran, dan sholat tepat waktu. (3) Perbanyak membaca Alquran sebagai stimulasi positif untuk perkembangan janin.(4) Hndari keperca yaan mitos, tahayul, dan khurafat seperti meletakkan gunting dibawah bantal agar terhindar dari mahluk jahat. (5) Menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan yang halal dan baik.

2. Pendidikan Setelah Anak Lahir

a. Azan di telinga kanan dan Iqomat di telinga kiri

Islam memberikan pendidikan kepada orang tua yang anaknya baru lahir agar mengazankannya di telinga kanannya dan mengiqomatkannya di telinga kirinya.

Ibnul Qoyyim rahimahullah menyingkap beberapa hikmah azan untuk bayi yang baru lahir ini :

Pertama, agar ucapan pertama yang masuk ke dalam telinga sang bayi adalah kata-kata yang mengungkapkan sifat-sifat kebesaran Allah, keagungannya, dan syahadat yang menjadi syarat sah masuk Islam. Itu menjadi seperti talqin bagi si bayi dengan syiar Islam ketika dia masuk ke dalam kehidupan dunia, sebagaimana nantinya dia juga akan ditalqin dengan tauhid ketika akan meninggalkan dunia.

Kedua, kaburnya setan karena mendengar azan. Sebelunya setan mengintai si bayi sampai dilahirkan, kemudian mengikutinya untuk menggodanya sebagai aplikasi ketentuan dan kehendak Allah SWT. Maka, di saat pertama kali ada keterikatan dengan si bayi ini, setan sudah harus mendengar sesuatu yang dapat melemahkan dan membuatnya gusar.

Ketiga, hikmah lainnya yaitu ajakan kepada Allah, kepada agama Islam, dan kepada beribadah kepada Allah harus mendahului ajakan setan. Sama seperti fitrah Allah yang digariskan bagi umat manusia, yakni selalu mendahului perubahan fitrah yang dilakukan oleh setan.

b. Menyuapi Bayi dengan Kurma (Tahniq)

Dari Aisyah ra menyampaikan “Dahulu, bayi-bayi biasa dibawa ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau mendoaakan keberkahan untuk mereka dan mentahnik mereka.” (HR. Muslim)

Demikian juga hadits  yang diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma. Beliau menceritakan, “Aku sedang mengandung ‘Abdullah bin Zubair di Mekkah. Suatu ketika aku pergi ke Madinah dan singgah di Qubba’. Aku pun melahirkan di Qubba’. Kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku meletakkan bayiku di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun meminta dibawakan sebuah kurma lalu beliau mengunyahnya dan meludahi mulut (‘Abdullah bin Zubair yang masih bayi -pen). Sehingga jadilah air liur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan benda pertama yang masuk perutnya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahniknya dengan kurma lalu mendoakan keberkahan untuknya. Dialah orang pertama yang dilahirkan dari orang tua yang muslim dalam sejarah Islam.” (HR. Bukhari dan Muslim )

Dari hadis tersebut dapat diketaui bahwa bayi yang baru lahir ditahniq yaitu orang tua mengunyah buah kurma hingga halus kemudian menempelkan dan menggosokannya sedikit dari kunyahan tersebut pada langit-langit mulut bayi.

c. Memberi Nama yang Baik

Dari Abu Hurairah ra Rasulullah saw bersabda  “hak anak atas orang tuanya ada tiga: diberikan nama yang baik ketika lahir, diajarkan al-Quran ketika sudah berakal ( tamyiz) dan menikahkannya ketika sudah menemukan pasangannya.”

Nabi Muhammad saw memilih nama terbaik untuk anak-anak beliau, karena nama yang baik memiliki dampak yang positif bagi jiwa ketika pertama kali mendengarnya. Untuk itu, bagi orang tua yang ingin anaknya menjadi orang baik hendaknya memberinya nama yang baik-baik.

d. Mencukur Gundul Rambut Bayi

Diantara pendidikan Islam tentang bayi yang baru lahir adalah menggunduli kepal bayi dan bersedekan kepada fakir miskin seharga perak seberat timbangan rambutnya.

Dari Ali bin Abi Thalib ra berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Hasan dengan seekor kambing.” Kemudian beliau bersabda, “Wahai Fatimah, gundullah rambutnya lalu sedekahkanlah perak seberat rambutnya.” Ali berkata, “Aku kemudian menimbang rambutnya, dan beratnya sekadar uang satu dirham atau sebagiannya.” (HR. Tirmidzi )

Adapun manfaat dari mencukur rambut bayi tersebut Ibnu Al- Qayyim menjelaskan mencukur rambut adalah pelaksanaan perintah Rasulullah SAW untuk menghilangkan kotoran. Dengan hal tersebut kita membuang rambut yang jelek/lemah dengan rambut yang kuat dan lebih bermanfaat bagi kepala dan lebih meringankan bagi si bayi. Dan hal tersebut berguna untuk membuka lobang pori-pori yang ada di kepala supaya gelombang panas bisa keluar melaluinya dengan mudah, dimana hal tersebut sangat bermanfaat untuk menguatkan indera penglihatan, penciuman, dan pendengaran si bayi.

e, Aqiqah


Aqiqah secara bahasa berarti memutus dan melubangi. Beberapa pakar juga menyatakan bahwa aqiqah merupakan nama hewan yang akan disembelih. Dinamakan begitu karena pada pelaksanaannya hewan tersebut lehernya akan dipotong . Sedang untuk maknanya secara syariat adalah hewan yang disembelih untuk menebus bayi yang telah dilahirkan.


Maka aqiqah adalah hewan sembelihan yang dilakukan penyembelihannya dengan maksud untuk kelahiran seorang anak, baik itu laki-laki maupun perempuan di hari yang ketujuh sejak kelahirannya dengan tujuan mencari keridhoan  Allah SWT.


f. Memberi ASI (Air Susu Ibu) 


Seorang ibu dianjurkan untuk menyusui bayinya selama dua tahun, sebagaimana yang diserukan Allah SWT dalam Alqurn  "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya". (QS.Albaqarah ayat 233).


Pemberian ASI setelah bayi dilahirkan sampai bayi berusia dua tahun merupakan fondasi membentuk anak yang berkualitas. ASI merupakan makanan terlengkap bagi anak yang memenuhi syarat-syarat keselamatan dan kesehatan. Karena itu. Para ahli kesehatan sepakat, cara terbaik dalam memberikan makanan pada bayi usia 0-2 tahun pertama adalah dengan memberikan ASI secara alami.
ASI lebih baik dan bermanfaat dibandingkan minuman atau makanan lainnya. Membiasakan memberi ASI sejak dini pada anak juga menjadi bukti rasa sayang orang tua kepada anak hingga menimbulkan ikatan batin antara ibu dan anak. ASI juga memiliki dampak terbaik dalam tumbuh kembang pada jasmani dan rohani anak. Memberikan potensi, kemampuan spiritual, dan kejiwaan pada anak. 


Demikianlah proses terkait pendidikan yang penting untuk dilakukan oleh seseorang yang ingin mendapatkan anak-anak yang berkualitas. Sesuai dengan definisi proses menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu rangkaian tidakan, perbuatan, atau pengalihan yang menghasilkan produk. Maka proses tersebut bukan terakhir, masih ada tindakan yang perlu dilakukan untuk benar-benar menghasilkan anak yang berkualitas, berguna untuk agama, orang tua, bangsa dan negaranya.
Wallahu'alam



Proses untuk Membentuk Anak Berkualitas Ini Tidak Ada di Lembaga PAUD, yang Pertama dan Terakhir Banyak yang Mengabaikannya Proses untuk Membentuk  Anak Berkualitas Ini Tidak Ada di Lembaga PAUD, yang Pertama  dan Terakhir Banyak yang Mengabaikannya Reviewed by Aa Fajar Sang Fakir Ilmu on Thursday, January 02, 2020 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.